Rabu, 17 April 2013

Belum Tentu Seperti Aku

Tuhan telah mengijinkan ku bahagia bersamamu. Tahukah kau? Betapa sangat luar biasanya kebahagiaan itu? Betapa sangat puas aku berdiri dan menangkap kebahagiaan itu setelah sekian lama mengejar, melayang-layang ke ujung waktu.

Ujung waktu yang akhirnya memperbolehkanku mendekapmu; mendekap kebahagiaanku. Aku diberikan waktu untuk menikmatinya bersamamu. Lihatlah, betapa lengkungan senyum ini enggan berubah. Tak mau menyusut. Dan senyuman ini? Untuk siapa? Kamu.

Yang tak aku mengerti. Waktu yang diberikan mengapa begitu singkat? Sepertinya kamu belum puas melihat aku berlari mengejar. Sepertinya kamu masih ingin melayang-layang. Bukankah sudah kuberi tahu tentang bagaimana aku sangat tak ingin kehilangan kamu? Saat gemetar tubuh ini ketika ketakutan akan kehilanganmu mendera?

Bisakah dimengerti kata demi kata yang kuucap adalah cinta untukmu. Atau bahkan kamu tak bisa mengerti cinta sekalipun? Sehingga dengan mudahnya melepasku.

Tuhan mengerti. Tuhan melihat. Bagaimana aku tertatih-tatih saat mengejarmu. Bahkan mungkin Tuhan hafal siapa nama yang kusebut dalam doaku. Untuk siapa sujudku selama ini. Dan apa yang kuminta dari kebahagiaan. Semua adalah Kamu. Kamu. Kamu. Kamu.

Dan saat kamu melepasku begitu saja dengan alasan yang tak sebanding dengan perjuanganku.

 "Ada apa Ren?"

 "Maaf, aku tidak cocok denganmu, Lisa."

Demi Tuhan! ketidakcocokan takbisa aku terima menjadi alasan kita untuk berpisah. Bukankah cinta sudah menjadi alasan kita bersama? Mengapa masih ada ketidakcocokan yang terselip didalamnya? Lalu dengan apa cinta itu terbentuk? Jika ketidakcocokan baru terucap saat ini? Permainan kah cintamu itu?

Apa yang kamu mau? Apa yang kamu minta? Agar ketidakcocokan itu hilang?
Disaat aku sakit mengejar cinta yang tak berhenti. Lalu disembuhkan dengan dikabulkannya kamu. Haruskah aku rasakan lagi sakitnya mengejar cinta sepihak? Apakah hidup terus begini saja? Rasakan sakit, disembuhkan lalu kembali lagi rasakan sakit.

Dari setiap kisah yang terjalin. Dari setiap detik yang berkumpul dan menjadi cerita. Dari setiap rasa yang menjadi cinta, Haruskah berhenti termakan waktu? Sekejam itukah waktu? Memberikan dirinya untuk bahagia, lalu dengan mudahnya menghentikan sekaligus merenggut kembali kebahagiaan itu.
Bisakah waktu mengerti saat aku bicara padanya? Bisakah waktu meluangkan dirinya saat aku meminta lebih lama ada? Bisakah detik itu berhenti saat aku bahagia tanpa merenggut kebahagiannya?

Jika bukan waktu yang menghentikan ini? Lalu siapa? Kamu? Yang sengaja meninggalkanku setelah kudengar kata cinta dari mulutmu?
Masuk akal kah ketika aku dengar perpisahan setelah sebelumnya kurasakan hangatnya cinta darimu?

Atau, aku kah yang bodoh? Yang selama ini mengejar cinta sepihak tanpa memperhatikan timbal balik dari kamu? Sampai-sampai aku tak sadar kehadiranmu hanya permainan sesaat. Kata cintamu hanya hembusan angin lewat. Hangat cintamu hanya kepalsuan yang memburat.

Kupikir, adanya kamu adalah jawaban Tuhan dari rencana-rencananya. Ternyata aku salah. Kamu adalah rencana-Nya yang kesekian kali. Dan aku tak tahu kapan jawaban doaku terkabul. Doa untuk bahagia bersama satu cinta dan waktu yang abadi.

Lalu, saat melihatmu berjalan meninggalkanku. Haruskah kuucap selamat tinggal, jika hatiku takbisa? Haruskah kutahan air mata jika ia terus memaksa keluar? Dan haruskah ku rasa kuat, jika kelemahan membuatku rapuh?
Mengapa saat aku lelah mengejar cinta alasannya kamu. Saat aku merasakan kebahagiaan cinta alasannya kamu. Bahkan saat aku merasakan hancurnya perpisahan juga alasannya kamu.
Mengertilah, betapa sangat berpengaruhnya kamu dihidupku.

Kembali dan perbaikilah semuanya denganku. Belum tentu dijalanmu selanjutnya, dicintamu yang akan datang. Kamu temukan sosok yang mau mengejar cintamu. Yang mau merasakan tulusnya cinta bersamamu. Yang mau bertahan diatas kehancuran perpisahan. Yang mau menunggumu saat hatinya merasakan titik terlemah sekalipun. Belum tentu seperti AKU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar